Kaleidoskop Premier League 2016, Keajaiban Leicester City

0
104
Bek Leicester City, Wes Morgan (tengah), dan rekan-rekan satu timnya memberikan tepukan kepada pendukung Leicester City saat laga kontra Tottenham Hotspur dalam laga lanjutan Premier League 2016-2017 di Stadion White Hart Lane, London, pada 29 Oktober 2016.
Bek Leicester City, Wes Morgan (tengah), dan rekan-rekan satu timnya memberikan tepukan kepada pendukung Leicester City saat laga kontra Tottenham Hotspur dalam laga lanjutan Premier League 2016-2017 di Stadion White Hart Lane, London, pada 29 Oktober 2016.

Inggris – Premier League 2015-2016 memunculkan dongeng. Klub-klub mapan mendapatkan kejutan dari klub semenjana yang pada musim sebelumnya nyaris terdegradasi.

Penulis: Christian Gunawan

Leicester City mengakhiri 2014-2015 di peringkat ke- 14. Perolehan poin mereka hanya enam lebih banyak daripada peringkat ke-18.

Pada prosesnya, The Foxes sempat terancam turun divisi. Sampai pekan ke-31, tim yang kala itu ditangani Nigel Pearson tersebut masih berada di dasar klasemen!

Namun, dalam waktu setahun saja, Si Rubah meroket. Kedatangan Claudio Ranieri menggantikan Pearson menjadi awal kejutan besar itu.

Pembelian pemain tanpa transfer selangit seperti N’Golo Kante dari Caen dengan 5,6 juta pound, Christian Fuchs dari Schalke tanpa biaya transfer, dan Robert Huth dari Stoke (3 juta pound) menjadi resep berikutnya.

Lesatan Leicester memang tak lepas dari kelesuan tim-tim yang lebih mapan. Juara bertahan Chelsea limbung, bahkan tercecer ke papan tengah hingga Jose Mourinho didepak.

Arsenal unggul sampai setengah musim, tetapi seperti sebelum-sebelumnya, anjlok pada paruh kedua musim.

Manchester City juga angin-anginan dan mungkin tepengaruh kabar sebelum musim berakhir bahwa Pep Guardiola akan datang untuk kompetisi 2016-2017.

Manchester United tak juga menguat di bawah arahan Louis van Gaal. Liverpool FC beradaptasi bersama Juergen Klopp. Tottenham cukup stabil, tetapi kerap kehilangan poin di laga penting.

Akan tetapi, kemampuan pasukan Ranieri sama sekali tidak sepele. Kolektivitas menjadi senjata utama klub juara Piala Liga tiga kali ini.

Kasper Schmeichel di bawah mistar; duet Huth dan Wes Morgan di jantung pertahanan; serta gelandang pekerja keras seperti Kante, Marc Albrighton, dan Danny Drinkwater membentuk tim yang sukar dikalahkan. Riyad Mahrez dan Jamie Vardy menghasilkan serangan yang sulit ditahan lawan.

LEAVE A REPLY