Qualcomm Kena Denda Rp 11,5 Triliun Karena Curang

0
145
Cristiano Amon selaku Executive Vice President Qualcomm Tecnologies, Inc. dalam acara 4G/5G Summit 2016 di Hong Kong, Selasa (18/10/2016).
Cristiano Amon selaku Executive Vice President Qualcomm Tecnologies, Inc. dalam acara 4G/5G Summit 2016 di Hong Kong, Selasa (18/10/2016).

Pemerintah Korea Selatan menuduh Qualcomm melakukan kecurangan bisnis. Produsen chipset mobile tersebut didenda 854 juta dollar AS atau setara Rp 11,5 triliun.

Tak terima, Qualcomm mengatakan bakal mengajukan banding ke pengadilan setempat, sebagaimana dilaporkan Reuters dan dihimpun KompasTekno, Kamis (29/12/2016).

“Kami sepenuhnya tak sepakat dengan keputusan Komisi Perdagangan Korea Selatan (KFTC),” kata perwakilan Qualcomm.

Menurut KFTC, pihaknya telah menyelidiki praktik bisnis Qualcomm sejak 2014 lalu, menyusul banyaknya keluhan yang dilaporkan pelaku industri. KFTC tak mengumbar secara spesifik perusahaan mana yang melapor.

Yang jelas, beberapa perusahaan asing seperti Apple, Intel, MediaTek, dan Huawei, dimintai pendapat selama proses pertimbangan keputusan oleh pemerintah Korea Selatan.

“Kami menginvestigasi dan mengambil tindakan karena aksi Qualcomm membatasi kompetisi di industri mobile secara keseluruhan,” kata Sekretaris Jenderal KFTC, Shin Young-son.

Lebih spesifik, menurut penjabaran KFTC, kecurangan bisnis Qualcomm berakar pada dominasinya sebagai penyedia chipset. Alhasil, Qualcomm dinilai kerap semena-mena pada vendor perangkat mobile.

Vendor dipaksa membayar royalti atas paten-paten yang tak jelas, sebagai konsekuensi menggunakan chipset buatan Qualcomm.

Selain itu, Qualcomm juga dituduh membatasi lisensi paten standar yang penting untuk produsen chipset pesaing seperti Intel, Samsung, dan MediaTek. Menurut pemerintah Korea Selatan, Qualcomm berusaha menghindari kompetisi.

Ini bukan kali pertama Qualcomm berseteru dengan pemerintah suatu negara. Pada Februari 2015, China mendenda Qualcomm senilai 975 juta (Rp 13 triliun) atas tuduhan serupa.

China juga menerapkan masa percobaan selama 14 bulan bagi Qualcomm. Uni Eropa pun pernah menuduh Qualcomm memanfaatkan dominasi pasar untuk menghalangi jalan bisnis para pesaingnya.

LEAVE A REPLY