Desakan untuk Lockdown Jakarta Semakin Digaungkan

  • Whatsapp
Lockdown Jakarta

Belakangan muncul desakan kepada pemerintah untuk lockdown Jakarta. Hal tersebut dilakukan imbas penyebaran virus corona yang semakin mengganas. Penebalan PPKM Mikro pun telah dilakukan.

Per kemarin, Senin (21/6/2021), kasus harian Corona di Jakarta masih berkutat di angka 5.014 kasus. Hanya turun 500-an kasus dari hari sebelumnya. Menurut data yang dipublikasikan oleh BNPB, kasus harian Corona di Jakarta pada 21 Juni kemarin merupakan kasus terbanyak di antara provinsi lainnya. Sementara itu, kasus Corona secara nasional kini mencapai 2.004.445 kasus dengan 147.728 di antaranya merupakan kasus aktif.

Bacaan Lainnya

Menurut keterangan Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Dinas Kesehatan Provinis DKI Jakarta, Dwi Oktavia, menjelaskan bahwa ada ratusan anak di Jakarta yang terpapar Covid-19. Dengan penemuman 655 kasus Corona pada anak usia 6-18 tahun dan 244 kasus pada balita. Sementara 4.261 kasus terkonfirmasi berasal dari usia 19-59 tahun. Dan untuk usia 60 tahun ke atas sebanyak 442 kasus.

Desakan untuk lockdown Jakarta juga dilandasi atas kondisi tempat tidur di RS rujukan Covid-19 yang sudah terisi 90 persen, menurut dara BOR.

“Saat ini ada 90 persen keterpakaian tempat tidur isolasi di Jakarta, sedangkan ICU 81 persen,” ungkap Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta Widyastuti di Balai Kota DKI Jakarta, Senin (21/6/2021), yang dilansir dari Detik.com.

Diketahui saat ini, DKI Jakarta memiliki 106 RS rujukan Covid-19 dan 13 di antaranya khusus melayani pasien Covid-19. Rencananya akan  ada penambahan jumlah tempat tidur di RS Covid.

Sementara itu, tempat isolasi pasien Covid-19 tak bergejala di sejumlah wisma, juga dinyatakan penuh.

Desakan Lockdown Jakarta

Seorang pakar epidemologi Universitas Griffith Australia, Dicky Budiman, mendorong pemberlakuan lockdown di sejumlah daerah. Ia memperingatkan bahwa kebijakan lockdown harus dipersiapkan dengan baik. Salah satu yang utama adalah dukungan finansial kepala daerah.

“Kalau bicara merespon mencegah beban di fasilitas kesehatan, atau pembatasan atau lockdown atau apapun itu, ya karena ini sudah dimana-mana, nggak bisa di Jakarta aja. Setidaknya di Jawa atau di sekota raya Jawa. Durasinya minimal 2 minggu, ada dua kali masa inkubasi sebulan,” kata Dicky yang dikutip dari Detik.com.

Dicky juga memaparkan keuntungan dan kerugian dari kebijakan lockdown Jakarta ini. Keuntungannya, lockdown bisa mengurangi ebban di fasilitas kesehatan. Sedangkan kerugiannya, terletak pada ongkos sosial dari kebijakan ini. Selain itu, kelompok masyarakat rawan bisa terdampak.

Sementara itu, Ketua Dewan Pertimbangan PB IDI, Prof. Dr. Dr. Zubairi Djoerban mengungkapkan melalui tulisannya di akun Twitter pribadinya soal dorongan untuk mewujudkan kebijakan lockdown di Indonesia. Hal tersebut merujuk pada kondisi melonjaknya kasus Covid-19. Lockdown bisa dilaksanakan selama dua minggu guna menekan laju penyebaran virus corona.

“Saran saya. Lebih bijaksana bagi Indonesia untuk terapkan lockdown selama dua minggu. Untuk apa? Memperlambat penyebaran, meratakan kurva, menyelamatkan fasilitas kesehatan, dan yang pamungkas: menahan situasi pandemi jadi ekstrem—yang akan membahayakan lebih banyak nyawa,” tulis Prof. Dr. Dr. Zubairi Djoerban dalam akun Twitternya, Senin (21/6/2021).

Akankah lockdown Jakarta menjadi nyata?

Baca juga: Varian Corona dari India Disebut Terdeteksi di Jakarta,Kudus dan Bangkalan

Pos terkait

Tinggalkan Balasan