In Memoriam: Soeharto, Mengenang 100 Tahunnya

  • Whatsapp
Soeharto
Presiden Ke-2 Republik Indonesia Soeharto (Foto dok. Reuters)

Tepat di hari ini, Soeharto berulang tahun yang ke 100 tahun. Presiden kedua Republik Indonesia itu lahir di Bantul, Yogyakarta pada 8 Juni 1921.

Soeharto adalah anak dari pasangan Sukirah dan Kertosudira yang memulai sepak terjang karirnya di dunia militer di tahun 1942 saat diterima menjadi tentara KNIL. Ia kemudian bergabung dengan PETA, kesatuan militer bentukan Jepang, saat Belanda angkat kaki dari Indonesia.

Dari sanalah awal mula ia berkarir di dunia militer, hingga Indonesia merdeka.

Perjalanan karir Soeharto mulai Nampak saat situasi politik di Indonesia bergejolak pada tahun 1965. Namanya pun ditunjuk sebagai pejabat presiden lewat Sidang Istimewa MPR pada 6 Maret 1967 dan terpilih menjadi presiden oleh MPR melalui pemilihan umum. Pada 27 Maret 1967, Soeharto pun resmi menjabat sebagai presiden berdasarkan hasil Sidang Umum MPRS. Selanjutnya, ia terus menjabat menjadi orang nomor 1 di Indonesia hingga 32 tahun.

Soeharto dan kisahnya yang kontroversial

Seorang penulis bernama Salim Haji Said, menulis sebuah buku “Menyaksikan 30 Tahun Pemerintahan Otoriter Soeharto”, menuliskan modal utama sang Presiden dalam berkuasa adalah dukungan militer dan memanfaatkan kemarahan rakyat kepada Partai Komunis Indonesia.

Menyadari bahwa ia tidak memiliki charisma dan pengalaman politik yang kuat seperti pendahulunya, ia berkeyakinan jika pesaingnya dari kalangan militer bisa disingkirkan, maka ia akan bertahan sebagai penguasa.

Maka dari itu, setelah “Membereskan Sukarno”, ia pun memakai tida cara untuk mempertahankan kekuasaannya.

  1. Menyingkirkan semua Perwira yang berorientasi kiri dan Sukarnois.
  2. Mempromosikan para jenderal yang dianggap tidak berpotensi memakai tentara untuk melawannya.
  3. Menyingkirkan para pendukung yang berjasa untuk kemenangan politik Soeharto dari posisi berpengaruh. Terutama mereka yang menonjol di masyarakat dan dianggap memiliki agenda sendiri.

Selama masa Orde Baru, semua partai dilebur menjadi tiga bagian. Yaitu Golkar, PDI dan PPP. Partai Golkar adalah partai yang dibangun militer untuk menjadi kendaraan politik mereka. Tugasnya adalah untuk menduduki sebanyak mungkin kursi di DPR untuk melegitimasi kekuasaan Soeharto.

Namun, saat krisis moneter yang melanda Indonesia sejak pertengahan 1997, masa kekuasaannya mulai terkikis. Saat krisis menghantam, sang Presiden tidak bisa berkutik. Bahkan Indonesia harus menerima bantuan IMF untuk memulihkannya.

Dalam masa itu, tuntutan agar Soeharto mundur dari jabatannya terus digaungkan. Bahkan berujung pada demonstrasi besar-besaran oleh para Mahasiswa yang disebut sebagai ujung tombak perlawanan. Bahkan, empat nyawa mahasiswa harus melayang di tangan aparat. Demo pun semakin meluas dan memburuk hingga Mei 1998 dan menjadi catatan sejarah kelam bagi Indonesia.

Ia pun akhirnya turun dari jabatan yang ia emban selama 32 tahun pada 21 Mei 1998. Bertepatan dengan 70 hari setelah terpilih menjadi presiden untuk yang ketujuh kalinya. Dan BJ Habibie pun diutus untuk menggantikannya.

Soeharto tutup usia pada 27 Januari 2008, tepat 10 tahun setelah ia mundur dari kursi kepresidenannya dan dimakamkan di Astana Giri Bangun, Solo.

Terlepas dari segala kontroversinya, ada banyak juga yang memuja dan memujinya, hingga menyebutnya sebagai “Bapak Pembangunan Republik Indonesia”.

Sumber: Tirto

Baca juga: Mochtar Kusumaatmadja Tutup Usia, Namanya Dikenal Hingga Ke Negeri Tetangga

Pos terkait

Tinggalkan Balasan