Aphelion 2021 Sebabkan Suhu Dingin? Ini Faktanya

  • Whatsapp
Aphelion 2021
Fenomena Aphelion (foto: pixabay)

Beberapa hari terakhi ini warganet dihebohkan dengan pesan berantai yang dikirim melalui pesan WhatsApp dan laman Facebook. Pesan tersebut berisikan fenomena Aphelion 2021 yang menyebabkan suhu di sebagian besar wilayah Indonesia terasa lebih dingin.

Pesan berantai tersebut sontak membuat warganet ramai-ramai memperbincangkannya. Bahkan tidak sedikit yang merasa khawatir dan bertanya-tanya apakah fenomena Aphelion 2021 ini menyebabkan dampak yangs serius terhadap alam.

Bacaan Lainnya

Aphelion sendiri adalah sebuah fenomena dimana Bumi berada pada titik terjauh dari Matahari. Sedangkan Perihelion adalah fenomena sebaliknya. Aphelion 2021 terjadi setahun sekali pada bulan Juli.

Menanggapi pesan tersebut, Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) menilai pesan berantai tentang fenomena Aphelion 2021 ini dinilai membuat masyarakat ketakutan dan menimbulkan keresahan.

Tidak sedikit masyarakat yang mempercayai asumsi yang ditulis pada pesan berantai tersebut. Berikut isi pesan tentang fenomena Aphelion yang membuat masyarakat ketakutan:

“Mulai besok jam 05.27 kita akan mengalami FENOMENA APHELION, dimana letak bumi akan sangat jauh dr matahari. Kita tdk bs melihat fenomena tsb, tp kita bs merasakan dampaknya. Ini akan berlangsung sampai bulan Agustus. Kita akan mengalami cuaca yg dingin melebihi cuaca dingin sebelumnya,yg akan berdampak meriang flu,batuk sesak nafas dll. Oleh Krn itu mari kita semua tingkatkan imun dgn byk2 meminum vitamin atau suplemen agar imun kita kuat. Smg kita semua selalu ada dlm lindunganNYA. Aamiin”

“Jarak bumi ke matahari perjlnan 5 mnt cahaya atau 90.000.000 km. Fenomena aphelion menjadi 152.000.000 km . 66 % lbh jauh. Jadi hawa lbh dingin, dampaknya ke badan kurang enak karna ga terbiasa dgn suhu ini.”

Tanggapan dari BMKG Terkait Fenomena Aphelion 2021

Melansir Okezone, Deputi Bidang Klimatologi Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Herizal pun angkat bicara terkait fenomena ini.

Herizal menjelaskan, fenomena Aphelion 2021 terjadi satu tahun sekali pada kisaran bulan Juli. Dia juga mengungkapkan bahwa fenomena tersebut terjadi saat posisi Matahari berada pada titik terjauh dari Bumi. Meski demikian, kondisi tersebut tidak memberikan dampak dan pengaruh yang signifikan dan ekstrem terhadap atmosfer Bumi.

“Sementara itu, pada waktu yang sama, secara umum wilayah Indonesia berada pada periode musim kemarau. Hal ini menyebabkan seolah Aphelion memiliki dampak yang ekstrem terhadap penurunan suhu di Indonesia,” jelas Herizal yang dikutip dari Okezone Kamis (15/7/2021).

Menurutnya, fenomena ini adalah hal yang biasa terjadi setiap satu tahun sekali. Fenomena ini juga dapat menyebabkan beberapa daerah seperti Dieng dan dataran tinggi serta sejumlah pegunungan lainnya berpotensi mengalami embun es (embun upas) yang sebagian orang mengiranya adalah salju.

Fakta Suhu Dingin di Sejumlah Wilayah Indonesia

Aphelion 2021
(foto: piexels)

Lebih lanjut Herizal menjelaskan, fenomena suhu udara dingin sebetulnya adalah fenomena alamiah yang umum terjadi. Suhu yang lebih dingin dari rata-rata ini umum terjadi di bulan-bulan puncak musim kemarau yaitu Juli hingga September.

Saat ini, wilayah Pulau Jawa hingga Nusa Tenggara Timur (NTT), menuju puncak musim kemarau. Periode ini ditandai dengan pergerakan angin dari arah timur, yang berasal dari Benua Australia yang saat ini sedang musim dingin.

Adanya pola tekanan udara yang relatif tinggi di Australia menyebabkan pergerakan massa udara dari Australia menuju Indonesia atau dikenal dengan istilah angin monsun.

Angin monsun Australia bertiup menuju wilayah Indonesia melewati perairan Samudera Indonesia yang memiliki suhu permukaan laut yang juga relatif dingin. Hal tersebut menyebabkan beberapa wilayah di Indonesia terutama di bagian selatan khatulistiwa terasa lebih dingin.

Selain dampak angin monsun, berkurangnya awan dan hujan di pulau Jawa hingga Nusa Tenggara turut berpengaruh kepada suhu yang dingin di malam hari. Sebab, tidak adanya uap air dan air menyebabkan energi radiasi yang dilepaskan oleh Bumi pada malam hari, tidak tersimpan di atmosfer.

Selain itu, langit yang cenderung bersih awannya atau clear sky, akan menyebabkan panas radiasi balik gelombang panjang ini langsung dilepas ke atmosfer luar. Sehingga membuat udara di dekat permukaan terasa lebih dingin terutama di malam hingga pagi hari.

 

Baca juga: Fenomena Aphelion 6 Juli, Bagaimana Penjelasnnya?

Pos terkait

Tinggalkan Balasan