Saham Bukalapak: Melompat-lompat 4-6% Sebelum Terjatuh Kemudian

  • Whatsapp
Saham Bukalapak

Penawaran perdana saham Bukalapak melalui IPO PT Bukalapak.com Tbk (BUKA) menunjukkan minat pasar yang tinggi. Bahkan sejak masih desas-desus akan melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) bulan Juli lalu.

Penawaran umum perdana saham Bukalapak dimulai pada Selasa, 27 Juli hingga Jumat, 30 Juli 2021 lalu. Perseroan telah mendapatkan pernyataan efektif dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) atas rencana penawaran umum saham perdana (IPO) pada 26 Juli.

Bukalapak menetapkan harga perdana di batas atas yakni Rp850 per lembar saham. Perseroan menawarkan sebanyak 25.765.504.800 saham biasa atas nama yang seluruhnya adalah saham baru.

Berdasarkan prospektus yang dirilis Selasa, 27 Juli 2021, saham Bukalapak ditawarkan kepada masyarakat engan harga penawaran Rp850 untuk setiap saham yang harus dibayar penuh pada saat mengajukan Formulir Pemesanan Pembelian Saham (FPPS).

Jumlah seluruh nilai IPO saham ini tercatat sebesar Rp21.900.679.080.000 atau nyaris Rp22 triliun. Sebelumnya, harga saham BUKA pada saat bookbuilding (pembentukan harga) berada di level Rp750-850 per saham.

Harga Saham Bukalapak Melompat-lompat dengan Tajam Sejak IPO

Saat melantai di bursa, BUKA masih mencatatkan kerugian. Prospektus perusahaan mengungkap kerugian terjadi selama tiga tahun terakhir. Yaitu sebesar Rp2,24 triliun pada 2018, Rp2,79 triliun pada 2019 dan Rp1,35 triliun pada tahun 2020.

Kerugian tersebut disebabkan oleh promosi dan pemasaran yang gencar dilakukan perusahaan. Sebagai start up Unicorn, BUKA dikenal gemar membakar uang dalam berkompetisi bisnis.

Seperti pada tahun 2020, beban pemasaran dan penjualan BUKA melebihi pendapatan perusahaan. Beban pemasaran di tahun tersebut tercatat sebesar Rp1,51 triliun, sementara pendapatannya hanya Rp1,35 triliun.

Dari segi aset, BUKA membukukan Rp2,59 triliun pada akhir 2020. Dengan total utang Rp985,82 miliar dengan ekuitas Rp1,67 triliun. Pada periode yang sama, nilai kas BUKA dibukukan Rp1,48 triliun.

Meski menunjukkan performa yang baik pada awal IPO hingga menyentuh Auto Reject Atas (ARA), namun beberapa hari terakhir saham Bukalapak mulai memble dan dilepas investor. Padahal, pada hari pertama IPO, yaitu Jumat (6/8), BUKA meroket nyaris 25 persen dari level IPO-nya 850.

Kemudian pada Senin (9/8), saham Bukalapak sempat menguat kencang, namun saham secara konsisten turun dan berakhir menguat 4,72 persen. Setelah dua hari pertama itu, BUKA anjlok.

Keesokan harinya, Selasa (10/8), BUKA terjun 6,76 persen menjadi 1.035 dari harga pucak di 1.325. Alih-alih kembali naik, saham justru semakin keok di hari Kamis (12/8) dengan pelemahan 6,76 persen dan bertengger di posisi 965.

Sejak melantai, secara total asing telah mencatatkan penjualan bersih senilai Rp2,02 triliun.

Menanggapi hal tersebut, Pendiri LBP Institue Lucky Bayu Pramono menyebut wajar bila saham-saham baru seperti saham Bukalapak mengalami fluktuasi. Terutama untuk saham yang sulit diukur harga wajarnya seperti perusahaan teknologi.

Setelah satu minggu melantai di bursa, Lucky menilai pasar sudah menguji harga BUKA. Dari apresiasi yang didapat, menurut dia, BUKA dianggap kemahalan di harga puncaknya 1.325.

Karena itu, harga yang terus merosot hingga ke level 900-an saat ini. berdasarkan pergerakan BUKA beberapa hari terakhir, harga pantas saham perusahaan berkisar 950-1000 per saham. Di atas 1000, ia menyebut saham kurang menarik untuk dikoleksi.

Meski digadang-gadang akan mengikuti jejak Wall Street dengan dominasi sektor teknologi, namun saat ini, Lucky melihat investor masih mengacu pada kinerja riil perusahaan yang saat in masih merugi.

“BUKA di harga puncaknya terlalu mahal, testing the water-nya sudah dan itu menjelaskan harga kemahalan. Kebetulan sentimen sedang negatif di pasar sehingga indeks mengalami koreksi,” ujarnya, mengutip CNN Indonesia.

Lucky memproyeksikan untuk jangka pendek, saham Bukalapak (BUKA) memiliki dua PR besar yang mnnati. Yaitu, BUKA harus memperbaiki kinerja perusahaan setelah mendapatkan suntikan dana publik.

Kedua, BUKA harus mengkukuhkan posisinya dari ancaman saham Unicorn lain yang juga akan segera melantai di bursa. BUKA harus mampu mempertahankan posisinya sebagai saham ‘seksi’ bila tidak mau dana investor jatuh ke Unicron lainnya.

Baca juga: Saham LUCY Milik Wulan Guritno Masuk Zona Gocap, BEI Beri Peringatan

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan