Kenali Gejala Happy Hipoxia yang Berbahaya bagi Penderita COVID-19

  • Whatsapp
Happy hipoxia
Ilustari alat oxymeter (Shutterstock/Juanrvelasco)

Happy hipoxia merupakan sebuah istilah yang menunjukkan kondisi tubuh seseorang yang kadar oksigennya berkurang. Berkurangnya kadar oksigen dalam tubuh ini seringkali tidak menimbulkan gejala sehingga sulit dikenali. Meski demikian, kondisi seperti ini wajib diwaspadai karena dapat berakibat fatal terutama bagi penderita COVID-19.

Belum diketahui secara pasti hingga saat ini, apa penyebab happy hipoxia. Melansir Alodokter, terdapat sejumlah teori yang menyebutkan bahwa happy hipoxia terjadi akibat peradangan pada jaringan paru-paru yang disebabkan oleh inveksi virus Corona.

Sementara itu, teori lain menyebutkan bahwa penyakit ini terjadi karena gangguan pada sistem saraf yang mengatur kadar oksigen dalam darah.

Kondisi berkurangnya kadar oksigen dalam darah ini tentu membahayakan nyawa penderita jika terlambat terdeteksi dan penanganannya. Oleh sebab itu, Anda patut mengetahui gejala happy hipoxia agar dpaat segera memperoleh penanganan yang tepat.

Tanda-tanda Happy Hipoxia

Dalam kondisi normal, kadar oksigen di dalam darah (saturasi oksigen) ada pada rentang 95 hingga 100 persen atau sekitar 75-100 mmHg. Jika kadar oksigen dalam darah berada di bawah range tersebut dapat mengakibatkan tubuh kekurangan oksigen yang dapat menimbulkan kondisi hipoksemia atau hipoksia.

Gejala yang muncul di setiap penderita tentu berbeda-beda. Gejala yang ditimbulkan dapat muncul secara tiba-tiba dan memburuk dengan cepat (akut) atau berkembang secara perlahan (kronis).

Secara umum, gejala hipoksia yang kerap terjadi di antaranya:

  • Tubuh terasa lemas
  • Kulit terlihat pucat
  • Kuku dan bibir berwarna kebiruan
  • Detak jantung menjadi cepat atau melambat
  • Batuk-batuk
  • Sesak napas
  • Sakit kepala

Kondisi ini akan semakin memburuk jika tidak segera ditangani. Hipoksia dapat menyebabkan penderitanya mengalami linglung, penurunan kesadaran atau bahkan koma.

Meskipun demikian, dalam kondisi tertentu, hipoksia dapat terjadi tanpa gejala apapun dan baru terdeteksi ketika seseorang melakukan pemeriksaan darah atau pemeriksaan saturasi oksigen menggunakan alat pulse oximeter.

Kondisi hipoksia tanpa gejala disebut silent hipoxia atau happy hipoxia. Kondisi tersebut dilaporkan dapat terjadi pada sebagian penderita COVID-19.

Cara menangani Happy Hipoxia

Pasien COVID-19 yang mengalami happy hipoxia kerap kali mengalami kekurangan oksigen tanpa gejala apapun. Bahkan penderita bisa merasa sehat-sehat saja. Padahal di saat yang sama, tubuh mereka telah terpapar virus Corona yang harus dilawan.

Berikut beberapa cara penanganan happy hipoxia:

1. Pemberian oksigen

Baik bergejala maupun tidak, kondisi hipoksia harus segera mendapat penanganan medis. Langkah penanganan pada umumnya bertujuan untuk mengembalikan kadar oksigen di dalam tubuh dan mengatasi penyebab terjadinya hipoksia.

Untuk hipoksia dengan sifat ringan dan membuat penderitanya masih dapat bernapas, penanganan yang dapat dilakukan adalah dengan memberikan oksigen melalui masker atau selang oksigen.

Berbeda halnya bagi penderita dengan gejala tidak dapat bernapas atau kesadarannya mulai menurun, dokter mungkin akan memberikan bantuan pernapasan melalui mesin ventilator.

2. Meningkatkan daya tahan tubuh

Tubuh manusia memiliki keunikan tersendiri, yaitu memiliki sistem imun yang mampu melawan virus dan bakteri penyebab penyakit. Namun dalam beberapa kondisi, sistem imun yang dimilikioleh tubuh dapat melemah, seperti malnutrisi atau penyakit tertentu. Oleh karena itu, penting bagi Anda untuk menjaga daya tahan tubuh dengan mengonsumsi makanan bernutrisi misalnya.

Beberapa makanan bernutrisi yang dapat dikonsumsi dan mudah ditemukan guna meningkatkan daya tahan tubuh adalah buah-buahan yang mengandung vitamin C. Vitamin C dapat ditemukan pada buah-buahan seperti jambu biji. Jambu biji merupakan sumber vitamin C dari alam yang dapat meningkatkan daya tahan tubuh sehingga tubuh lebih kuat melawan infeksi, termasuk infeksi virus Corona. Dan tentunya mengonsumsi vitam C dapat menangkal radikal bebas.

Baca juga: Penuhi Asupan 3 Vitamin untuk Daya Tahan Tubuh di Masa Pandemi

Pos terkait

Tinggalkan Balasan