7 Fakta Peristiwa Rengasdengklok, Penculikan Soekarno Sebelum Proklamasi Kemerdekaan

  • Whatsapp
Rengasdengklok
Peristiwa Rengasdengklok sebelum Proklamasi Kemerdekaan Indonesia (wikipedia)

Peristiwa Rengasdengklok sebelum Proklamasi menjadi momentum bersejarah bagi bangsa Indonesia. Membicarakan tentang Proklamasi kemerdekaan Indonesia, tidak bisa lepas dari peristiwa Rengasdengklok.

Peristiwa tersebut merupakan salah satu faktor yang mendorong pelaksanaan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945.

Bacaan Lainnya

Sejatinya, peristiwa Rengasdengklok didasari oleh perbedaan pendapat antara golongan tua dan golongan muda.

Dimana golongan tua, Ir. Soekarno dan Moh. Hatta, hendak mendiskusikan proklamasi dengan PPKI. Sedangkan golongan muda, ingin segera melaksanakan Proklamasi tanpa campur tangan Jepang.

Peristiwa Rengasdengklok

Melansir setneg.go.id, peristiwa Rengasdengklok terjadi pada 16 Agustus 1945 pukul 03.00 dini hari, sehari menjelang proklamasi kemerdekaan Indonesia.

Bung Karno dan Bung Hatta dibawa ke Rengasdengklok oleh sekelompok pemuda. Wilayah tersebut saat ini merupakan salah satu wilayah di Karawang, Jawa Barat.

Sekelompok pemuda tersebut di antaranya adalah Soekarni, Wikana, Aidit dan Chaerul Saleh dari perkumpulan ‘Menteng 31’.

Aksi penculikan tersebut bertujuan untuk mendesak Bung Karno dan Bung Hatta agar mempercepat proklamasi kemerdekaan Indonesia.

Golongan muda bermaksud untuk menjaga agar golongan tua yang diwakili oleh Soekarno, Hatta dan Achmad Soebarjo tidak terpengaruh oleh Jepang.

Namun rupanya, aksi penculikan itu membuat Bung Karno kecewa dan marah lantaran menganggap para pemuda tidak mau mendengarkan pertimbangannya yang sehat.

Akibatnya situasi dan keadaan semakin memanas. Bung Karno tidak punya pilihan lain, kecuali mengikuti kehendak para pemuda untuk dibawa ke tempat yang mereka tentukan.

Di Rengasdengklok, Soekarno dan Hatta disembunyikan ke rumah seorang Tionghoa bernama Djiaw Kie Siong yang berdekatan dengan markas Tentara Sukarela Pembela Tanah Air (PETA).

Fakta Peristiwa Rengasdengklok

Rengasdengklok
Rumah Djiaw Kie Siong yang dijadikan lokasi ‘penculikan’ Soekarno dan Hatta (wikipedia)

1. Rengasdengklok jauh dari Jakarta

Bukan tanpa alasan Rengasdengklok yang berlokasi di Karawang, Jawa Barat dipilih oleh golongan muda.

Berjarak sekitar 81 kilometer dari Jakarta, Rengasdengklok dianggap sebagai tempat yang aman untuk menyusun rencana kemerdekaan.

Tidak heran, karena memang wilayah tersebut jauh dari jangkauan pengawasan tentara Jepang, yang saat itu sudah mengetahui adanya rencana yang akan dilakukan Indonesia.

2. Lokasinya jauh dari jalan utama

Peristiwa Rengasdengklok terjadi di sebuah rumah di Kampung Bojong, Rengasdengklok Utara, Kecamatan Rengasdegklok, Kabupaten Karawang, Jawa Barat.

Tempat tersebut berjarak sekitar 15 kilometer dari jalan utama, yang merupakan bagian dari Jalan Panutra.

Sehingga jika kemungkinan tentara Jepang datang, anggota PETA dapat menghadangnya.

3. Lokasi strategis

Selain jauh dari Jakarta dan jalan utama, tempat tersebut dipilih berdasarkan pertimbangan militer.

Saat itu, anggota PETA Purwakarta dan Jakarta memiliki hubungan erat sehingga bisa saling memberi informasi jika ada pergerakan Jepang.

4. Rumah Djiaw Kie Siong jadi saksi sejarah

Berada di pinggiran Sungai Citarum, rumah Djiaw Kie Siong merupakan saksi bisu sejarah kemerdekaan Republik Indonesia.

Rumah tersebut ditinggali oleh Soekarni, Yusuf Kunto, dr. Sutjipto, Fatmawati, Guntur Soekarnoputra dan lainnya selama tiga hari pada 14-16 Agustus 1945.

5. Rumah petani Tionghoa

Djiaw Kie Siong merupakan seorang petani Tionghoa yang rumahnya dijadikan tempat ‘diculiknya’ Soekarno dan Hatta oleh golongan muda.

Selain itu, Djiaw Kie Siong merupakan anggota PETA. Rumah tersebut dipilih lantaran tidak terlalu mencolok dan lokasinya cukup tersembunyi.

Saat Soekarno dan Hatta tiba di rumah Djiaw Kie Siong, ia dan keluarganya keluar dari rumah agar Soekarno dan Hatta bisa menyusun naskah Proklamasi.

6. Lokasi rumah Djiaw Kie Siong dipindah

Rumah Djiaw Kie Siong yang semula berada di dekat Sungai Citarum, tepatnya di Kampung Bojong, dipindahkan ke tempat lain. Hal tersebut karena adanya luapan lumpur dan erosi dari Sungai Citarum.

Meski demikian, bagian rumah dan ruang tamu masih asli, tidak banyak berubah seperti aslinya. Bahkan, dua buah kamar yang dulu digunakan oleh Soekarno dan Hatta masih dipertahankan bentuk aslinya.

Saat ini, bangunan bersejarah itu terletak di RT 1 RW 9 Kampung Kalijaya, Rengasdengklok, Kabupaten Karawang.

7. Markas PETA dijadikan Monumen Kebulatan Tekad

Memiliki luas sekitar 1.500 m2, Monumen Kebulatan tekad dulunya merupakan PETA yang berlokasi tidak jauh daru rumah Djiaw Kie Siong.

Dibangun pada 1950, monumen ini sempat dipugar dan diperbaiki oleh Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Karawang pada 1984.

Baca juga: 6 Fakta Tersembunyi Proklamasi yang Wajib Anda Ketahui

Pos terkait

Tinggalkan Balasan