5 Tokoh Golongan Muda yang Berpengaruh pada Zaman Kemerdekaan

  • Whatsapp

Momentum kemerdekaan Indonesia tidak lepas dari peranan golongan tokoh-tokoh orang tua saja, namun juga gologan muda. Para tokoh golongan muda ini turut andil dalam membebaskan Tanah Air dari penjajahan asing.

Bahkan, beberapa tokoh golongan muda ini juga memegang peranan penting dalam mewujudkan kemerdekaan Indonesia. Mereka terus bergerak demi menegakkah hak-hak rakyat tanpa rasa takut dan penuh semangat.

Bacaan Lainnya

Tokoh Golongan Muda

Dari banyaknya pahlawan muda Indonesia yang turut memperjuangkan kemerdekaan, berikut lima di antaranya yang dirangkum dari Kumparan:

1. Chaerul Saleh

Golongan Muda

Chaerul merupakan Wakil Ketua Asrama Angkatan Baru Indonesia dan Ketua Umum Persatuan Pelajar Indonesia.

Ia menjadi salah satu tokoh penting dari golongan muda di balik Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Chaerul memimpin rapat gelap di belakang Laboratorium Bakteriologi Gedung Eijkman Institute, Jalan Pegangsaan Timur Nomor 17, Menteng, Jakarta Pusat.

Pertemuan rahasia kelompok golongan muda yang juga beranggotakan Sukarni, Wikana dan pemuda lainnya dari Menteng 31 ini menuntut agar Soekarno dan Hatta segera membacakan proklamasi kemerdekaan Indonesia.

2. Wikana

Golongan Muda

Lahir di Sumedang pada 18 Oktober 1914, Wikana menjadi salah satu tokoh dari golongan muda yang berjuang meraih kemerdekaan Indonesia.

Bersama Chaerul Saleh, Sukarni dan pemuda-pemuda lainnya dari Menteng 31, mereka menculik Soekarno dan hatta dalam peristiwa Rengasdengklok, agar kedua tokoh tersebut segera membacakan Proklamasi Kemerdekaan setelah kekalahan Jepang dari Sekutu pada 1945.

Wikana pada peristiwa pencetusan Proklamasi 1945 melakukan peran paling penting karena berkat koneksinya di Angkatan Laut Jepang atau Kaigun, Proklamasi 1945 bisa dirumuskan di rumah dinas Laksamana Maeda di Menteng yang terjamin keamanannya.

Selain itu, ia juga mengatur semua keperluan Pembacaan Proklamasi di rumah Bung Karno di Pegangsaan 56. Wikana sangat tegang saat melihat Bung Karno sakit malaria pagi hari menjelang detik-detik pembacaan Proklamasi.

Wikana pula lah yang membujuk kalangan militer Jepang untuk tidak mengganggu jalannya upacara pembacaan teks proklamasi.

3. Sayuti Melik

Golongan Muda

Sayuti Melik termasuk dalam kelompok Menteng 31 yang berperan dalam penculikan Soekarno dan Hatta pada 16 Agustus 1945. Bersama tokoh golongan muda lainnya, mereka membawa Soekarno, Fatmawati, Guntur yang baru berusia 9 bulan dan Hatta ke Rengasdengklok.

Tujuannya adalah agara Ir. Soekarno dan Moh. Hatta tidak terpengaruh oleh Jepang. Di sini mereka kembali meyakinkan Soekarno bahwa Jepang telah menyerah dan para pejuang telah siap untuk melawan.

Sayuti menjadi salah satu pemuda yang ikut menyaksikan Bung Karno, Bung Hatta dan Achmad Soebardjo menyusun naskah proklamasi di rumah Laksamana Maeda.

Setelah selesai pada dini hari 17 Agustus 1945, konsep naskah proklamasi itu dibacakan dan ditolak oleh para pemuda. Sebab, naskahnya dinilai seperti dibuat oleh Jepang.

Dalam situasi yang tegang tersebut, Sayuti memberi gagagsan agar Teks Proklamasi ditandatangani Bung karno dan Bung Hatta saja, atas nama Bangsa Indonesia.

Usulannya diterima dan Bung Karno segera memerintahkan Sayuti untuk mengetiknya. Ia mengubah kalimat “Wakil-wakil bangsa Indonesia” menjadi “Atas nama bangsa Indonesia”.

4. Sukarni

Golongan Muda

Pada tahun 1943, bersama Chaerul Saleh, Sukarni memimpin Asrama Pemuda di Menteng 31. Di tempoat tersebut, Sukarni menggembleng para pemuda untuk berjuang demi kemerdekaan Indonesia.

Setelah mendengar berita kekalahan Jepang, Sukarni ikut mendesak Soekarno dan Hatta untuk menyegerakan kemerdekaan.

Ia juga mengemban amanat dan bahu-membahu bersama kelompok pemuda lainnya dalam meneruskan berita tentang kemerdekaan Indonesia.

Ia membentuk Comite Van Aksi pada 18 Agustus 1945 yang tugasnya menyebarkan kabar kemerdekaan ke seluruh Indonesia.

5. Margonda

Golongan Muda

Setelah Jepang takluk karena Sekutu menjatuhkan bom di Hiroshima dan Nagasaki pada 1945, Margonda aktif dengan gerakan kepemudaan dan membentuk laskar-laskar.

Margonda bersama tokoh-tokoh golongan muda lokal di wilayah Bogor dan Depok mendirikan Angkatan Muda Republik Indonesia (AMRI).

Namun, tidak lama berselang organisasi itu bubar dan para anggotanya terpecah-pecah. Margonda sendiri lantas bergabung dengan Badan Keamanan Rakyat di Bogor.

Dalam peristiwa Gedoran Depok, Margonda ikut mempertahankan kemerdekaan dan merebut kembali Depok dari tangan NICA.

Baca juga: 7 Fakta Peristiwa Rengasdengklok, Penculikan Soekarno Sebelum Proklamasi Kemerdekaan

Pos terkait

Tinggalkan Balasan